Gareth Soutghate Patut Mendapatkan Apresiasi Lebih

Timnas Inggris tampil impresif di Piala Dunia 2018. Saat artikel ini ditulis, mereka berhasil melangkah ke babak semifinal. Menjadi sebuah prestasi lantaran terakhir kali Inggris tampil pada semifinal Piala Dunia merupakan pada 1990. Gareth Soutghate patut menerima apresiasi lebih. Sang manajer Inggris tersebut berhasil menyulap skuat Inggris yg sebenarnya nir khas sebagai salah satu kekuatan besar pada Piala Dunia 2018. Dikatakan tidak spesial lantaran Inggris pernah punya generasi emas ketika Frank Lampard, Steven Gerrard, Paul Scholes, David Beckham, Rio Ferdinand, Wayne Rooney, bermain bersamaan, yang ternyata gagal meraih trofi. Inggris tampil percaya diri lewat skema tiga-5-dua yg mereka terapkan semenjak fase grup. Sebuah keniscayaan karena Inggris sebelumnya lekat menggunakan pola dasar 4-tiga-tiga atau 4-dua-3-1. Southgate punya peranan akbar pada memaksimalkan talenta yang terdapat lewat skema 3 bek tadi.

Southgate sebagai kepala instruktur timnas Inggris menggantikan Sam Allardyce yg terlibat skandal. Allardyce saat itu baru menangani tim selama 67 hari dan menjalani satu pertandingan, menang melawan Slovakia (1-0). Soutgate, sementara itu, sebelumnya menukangi timnas Inggris U-21. Tak banyak perubahan pada awal kepemimpinan Southgate. Mantan bek timnas Inggris tadi tetap memainkan pola 4-2-tiga-1 dan 4-3-3 pada beberapa laga. Hasilnya Inggris meraih 2 kemenangan & satu imbang pada babak kualifikasi. Poin plusnya Inggris tak sekalipun kebobolan dalam tiga laga perdana Southgate. Barulah dalam laga melawan Jerman pada laga persahabatan, di laga keempatnya, Southgate bereksperimen dengan skema tiga bek. Formasi dasar yang diturunkan merupakan 3-4-2-1 atau 3-4-3. Inggris kalah 1-0. Kekalahan tersebut membuat Inggris pulang ke pola dasar 4-3-3 waktu melawan Lithuania & 4-dua-tiga-1 saat melawan Skotlandia. Hasilnya Lithuania dikalahkan & ditahan imbang Skotlandia. Inggris yang diunggulkan nyaris kalah berdasarkan Skotlandia sebelum akhirnya Kane mencetak gol penyama kedudukan pada mnt injury time. Southgate sendiri melihat ada sejumlah kekurangan pada permainan anak asuhnya meski puas menggunakan output akhir.

“Tujuan kami bisa lolos [ke Piala Dunia]. Kami sedang ada pada zenit, jadi nasib terdapat pada tangan kami sendiri. Kami punya beberapa laga sangkar, tapi itu seluruh bukan hanya mengenai lolos, tapi pula mengenai peningkatan & perkembangan sebagai tim. Di beberapa area telah terlihat hari ini, pada beberapa area lain belum. Tapi secara mentalitas sudah sangat rupawan,” kata Southgate seperti yang dikutip Bandar Bola Pasti Bayar. Tak lama sesudah laga itu, Southgate meminta galat satu asisten pelatihnya, Steve Holland, buat fokus pada timnas Inggris. Sebelumnya Holland menjadi asisten instruktur Southgate di timnas Inggris U-21 & masih sempat melatih pada sana meski tetap ikut ke senior bersama Southgate. Selain itu Holland juga merupakan asisten instruktur pada Chelsea sejak 2011. Baru akhir demam isu 2016/2017 dia memutuskan buat melepas jabatannya pada Chelsea.

Holland bekerja penuh menggunakan timnas Inggris dengan rekam jejak dua kali membawa Chelsea juara Liga Primer Inggris, dan masing-masing sekali Piala FA, Piala Liga, Liga Champions & Liga Europa. Ini merupakan ia sempat menjadi tangan kanan manajer-manajer top dimulai berdasarkan Andre Villas-Boas, Roberto Di Matteo, Rafael Benitez, Jose Mourinho hingga Antonio Conte. Di trend terakhirnya beserta Chelsea, Holland kampiun Liga Primer Inggris bersama Conte. Chelsea berhasil kampiun saat itu dengan pola dasar 3-4-3. Inilah yg lalu menjadi pengalaman berharga buat Holland yg kemudian diterapkan di timnas Inggris waktu ini.

Tekanan Tinggi Yang Diberikan Belgia Sejak Awal Laga

Tembus semifinal pada 1986, adalah prestasi terbaik yang bisa diraih Belgia pada Piala Dunia. Setelahnya, Belgia selalu gagal buat mengulang atau melampaui pencapaian tersebut. Dalam 3 edisi Piala Dunia sesudah Meksiko 1986, prestasi Belgia paling mentok hanya hingga babak 16 besar . Piala Dunia 2002 kemudian sebagai kesempatan keempat Belgia buat mengulang prestasi pada 1986. Tim berjuluk Setan Merah itu tergabung bersama Jepang (galat satu tuan rumah) di Grup H. Hasil satu kali menang & 2 kali imbang selama berlaga di fase gerombolan tampaknya cukup bagi Belgia buat lolos ke fase gugur. Di babak 16 besar , Belgia bertemu menggunakan tim unggulan, Brasil. Ini sebagai rintangan yang sangat berat bagi Belgia, mengingat Brasil merupakan—selain juara dunia 4 kali waktu itu—runner-up pada Piala Dunia edisi sebelumnya. Tetapi kedigdayaan Brasil itu tidak menciptakan Belgia ciut pada hari pertandingan. “Semua orang takut saat berhadapan dengan Brasil, tapi kami tidak,” kenang Marc Willmots yg merupakan kapten Belgia pada pertandingan itu. “Kami menyerang mereka. Kami bermain menekan. Kami bermain cerdas.”

Tekanan tinggi yang diberikan Belgia semenjak awal laga, kemudian berbuah saat pertandingan memasuki mnt ke-35. Umpan panjang yang dilepaskan Timmy Simons berdasarkan sisi kanan, berhasil menemui ketua Marc Willmots yang berada pada kotak penalti. Hadangan Roque Junior bukan perkara besar bagi Willmots yang memenangi duel udara untuk lalu menjaringkan bola ke gawang Marcos. Willmots sempat berlari buat melakukan selebrasi, tetapi seketika berhenti saat melihat wasit Peter Prendergast memperlihatkan gestur tak menyenangkan: menganulir gol karena Willmots dipercaya melakukan pelanggaran lebih dulu kepada Roque Junior. Willmots & kolega tentu saja kecewa menggunakan keputusan itu. Selepas gol itu dianulir, permainan Belgia kian mengendur sampai akhirnya kalah dengan skor dua-0. Belgia (lagi-lagi) tersingkir di babak 16 besar .

“Kami semua konfiden bahwa gol Willmots sebenarnya absah. Keputusan [anulir] itu telah membarui jalannya pertandingan,” ucap pelatih Belgia, Robert Waseige, dikutip berdasarkan Itcbet Bandar Judi Bola. Willmots sebagai pelaku utama sekaligus kapten tim, menjadi orang yg paling merasakan sakit hati. Ia kemudian menyampaikan: “Aku berharap kita akan bertemu lagi. Aku harap Belgia mampu melakukan pembalasan.” Di loka lain yang terpisah sejauh 9.400 kilometer berdasarkan Kota Kobe (loka digelarnya pertandingan Belgia vs Brasil), seseorang pendukung kecil Belgia tengah menangisi kekalahan menyakitkan itu. Nama anak kecil yang sedang menangis itu adalah Thomas Meunier. Usianya baru menginjak 12 tahun. Kakeknya adalah pendukung fanatik Club Brugge. Ayahnya adalah seseorang pesepakbola amatir. Bersama mak dan saudara perempuannya, Meunier punya satu kebiasaan: menyaksikan sang ayah bertanding setiap akhir pekan.

Berkat lahir di dalam famili yang begitu menggilai sepakbola, Meunier tidak pernah luput menyaksikan setiap siaran pertandingan sepakbola. Termasuk waktu menyaksikan aksi Willmots & kolega pada Piala Dunia 2002. Begitu menyaksikan Peter Pendrergast menganulir gol Willmots ke gawang Brasil, perasaan marah bercampur kecewa langsung bergumul pada dada Meunier. Ia coba menunda seluruh emosinya itu, tetapi akhirnya sia-sia: Meunier larut pada tangis. “Aku menangis sejadi-jadinya pada kamarku. Keputusan itu sangat nir adil,” ujar Meunier dikutip dari The Players Tribune. Sebelas tahun berselang, anak mini yg menangis di pada kamarnya itu sudah menjadi bagian dari tim nasional Belgia. Usaha yg dilakukannya selama ini buat sebagai pesepakbola profesional tidak berakhir sia-sia. Setelah Piala Eropa 2016 sebagai anjung akbar pertamanya, Piala Dunia 2018 menjadi panggung besar kedua bagi Meunier. Ia menjadi pilihan utama Roberto Martinez di sektor sayap kanan. Bersama Belgia, ia tampil dengan begitu trengginas pada Rusia.

Kelayakan Luka Modric

Bukan Cristiano Ronaldo. Gelar The Best FIFA Men`s Player 2018 diraih Luka Modric. Artinya, versi FIFA, pemain paling baik dunia waktu ini adalah Modric. Untuk pertama kalinya sejak 2007—ketika Kaka memperoleh gelar FIFA World Player of the Year— gelar pemain paling baik dunia diraih oleh “manusia”, bukan “alien”. Meski gelar berikut sempat bergeser titel jadi FIFA Ballon d`Or (2010-2015) dan The Best FIFA Men`s Player (sejak 2016). Modric dinilai tampil lebih baik daripada Messi dan Ronaldo, yang disebut-sebut sebagai dua pemain paling baik sejagat ini, selama musim 2017/18. Layakkah ia memperoleh gelar tersebut? Luka Modric mengakhiri musim 2017/18 bersama dengan membawa Real Madrid juara Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, dan Liga Champions. Selain itu, ia terhitung membawa Timnas Kroasia mencapai babak final Piala Dunia 2018.

Dibanding Messi dan Ronaldo, capaian Modric jauh lebih mentereng. Messi “hanya” menjuarai gelar La Liga Spanyol dan Copa del Rey. Messi pun tak masuk tiga besar kali ini. Ronaldo, yang musim lalu masih di Real Madrid (sekarang Juventus), kalah berasal dari Modric melalui pencapaian Piala Dunia. Jika Modric sukses ke final, Ronaldo bersama dengan Timnas Portugal tersingkir di babak 16 besar. Ronaldo yang jadi pemain paling baik pada 2016 dan 2017 pun kudu senang duduk di peringkat kedua. Peringkat ketiga ditempati oleh Mohamed Salah. Penyerang Timnas Mesir ini sesungguhnya tanpa piala. Tapi penampilannya pada musim 2017/18 sesungguhnya luar biasa. Secara tim, ia membawa Liverpool ke partai final Liga Champions. Secara pribadi, ia mencetak keseluruhan 44 gol berasal dari 52 penampilan; biarpun sesungguhnya torehan golnya itu masih kalah berasal dari Messi (45 gol berasal dari 54 laga) dan Ronaldo (44 gol berasal dari 44 laga). Dari sini telah muncul memadai paham bahwa Modric sesungguhnya layak dinahbiskan sebagai pemain paling baik dunia musim 2018. Walau sepakbola adalah permainan sebuah tim, kapabilitas pemain berusia 33 th. ini sesungguhnya memengaruhi permainan Real Madrid maupun Kroasia secara menyeluruh.

Torehan gol Modric di Real Madrid sesungguhnya cuma dua. Asisnya pun cuma tujuh. Di Piala Dunia, ia mencetak dua gol dan satu asis. Tapi kehebatan Modric sesungguhnya tidak mampu dicermati berasal dari angka statistik semata. Apalagi ia bukan Ronaldo, Messi, atau Salah yang memiliki tugas utama mencetak gol. Modric menempati pos gelandang tengah baik itu di Real Madrid maupun di Kroasia. Meski secara detail permainan ada perbedaan peran waktu ia berseragam Madrid dan Kroasia, tetapi secara keseluruhan, pemain kelahiran Zadar berikut merupakan ruh kesebelasan. Madrid dan Kroasia memiliki lini tengah mumpuni berkat kemampuannya menyeimbangkan lini tengah baik waktu bertahan maupun menyerang. Dalam formasi 4-3-3 yang diterapkan Real Madrid atau Kroasia, ia bukan seorang gelandang serang yang cuma menunggu bola di dekat kotak penalti lawan. Ia bersama dengan Toni Kroos di Real Madrid atau Ivan Rakitic di Kroasia, berada di depan holding midfielder untuk jadi jembatan pada lini belakang dan depan.

Walaupun begitu dikatakan itcbet situs judi bola, secara peran dan berdasarkan statistik, Modric sesungguhnya tidak lebih baik berasal dari Kroos. Di La Liga misalnya, Kroos jadi gelandang bersama dengan jumlah operan terbanyak per laga 76,7 operan per laga. Modric “hanya” 59,9 operan per laga. Sementara itu, Kroos mencatatkan 64 umpan kunci kala Modric “hanya” menorehkan 39 umpan kunci. Padahal secara peran, keduanya tak jauh berbeda. Yang membedakan mutu Kroos dan Modric adalah penampilan keduanya di Piala Dunia. Kroos yang terhitung jadi ruh permainan Jerman tak mampu menunjang timnya lolos ke fase gugur. Padahal kawan setim Kroos di Timnas Jerman sesungguhnya lebih memiliki kualitas dibanding kawan setim Modric di Kroasia. Tapi bersama dengan Modric yang jadi kapten, dan juga Zlatko Dalic sebagai pelatih, para pemain Kroasia yang sebagian besar tidak memiliki nama mentereng sukses mencapai prestasi paling baik dan penampilan terbaik.

Penampilan Modric di Kroasia sesungguhnya perlihatkan kelas eks pemain Tottenham Hotspur ini. Meski telah berusia 33 tahun, ia jadi salah satu pemain yang tetap diturunkan Dalic. Dalam tujuh laga, pada fase gugur, ia tetap bermain hingga 120 menit permainan. Hanya di final ia bermain normal 90 menit. Tapi stamina dan kualitasnya tetap terjaga. Padahal Kroasia menampilkan permainan menghimpit di mana para pemainnya, tak jika Modric, dapat tetap mengusahakan merebut bola sejak lawan menguasai di lokasi pertahanannya sendiri.

Paul Merson Kembali Layangkan Kritikan

Legenda Arsenal, Paul Merson kembali melayangkan kritikan kepada The Gunners. Ia menilai manajemen Meriam London sudah menciptakan 2 kesalahan besar , keliru satunya membiarkan Aaron Ramsey pulang menggunakan status bebas transfer. Ramsey telah melayani Arsenal selama lebih berdasarkan 10 tahun. Sejak bergabung menggunakan The Gunners berdasarkan Cardiff City pada tahun 2008 silam, gelandang dari Wales tadi sudah mempersembahkan lima gelar buat klub tersebut. Tetapi tanpa diduga, manajemen Arsenal justru tak mendapat permintaan Ramsey soal kontrak barunya. Alhasil, beliau punya kesempatan ke klub lainnya menggunakan status bebas transfer pada Juli nanti menyusul kontraknya yang berakhir dalam saat itu.

Keputusan membiarkan pemain berumur 28 tahun itu pergi dinilai Merson sebagai galat satu kesalahan besar yg dilakukan sang manajemen. Ia memberitahuakn rasa kecewanya terhadap keputusan tadi pada situs judi online terpercaya dan bandar judi bola terbesar di dunia. “Membiarkan kontrak pemain habis di umurnya yang sekarang, betapa besarnya pemain ini sudah beri, dan berapa nilainya adalah sebuah kriminal,” ujar Merson. Membiarkannya meninggalkan klub dan pulang dengan perdeo, seorang pada masa puncaknya pulang tanpa meninggalkan apapun, itu merupakan kriminalitas dalam sepak bola,” lanjutnya.

Selain itu, Merson pula mengkritisi kebijakan manajemen yg lebih menentukan menyodorkan kontrak tinggi pada pemain lainnya, Mesut Ozil. Ia merasa keputusan itu akan menyulitkan tim dalam mencari pengganti Ramsey. Sekarang mereka butuh penggantinya, & itu membutuhkan uang. Tapi sebelum kasus Ozil selesai, mereka akan kesulitan buat memboyong pemain baru,” tambahnya dalam daftar agen bola terpercaya dan bursa taruhan bola hari ini. Sebab apabila mereka menyiapkan uang 50-60 juta pounds buat seorang, hal pertama yang akan dikatakan oleh oleh pemain adalah, ‘saya ingin menerima [gaji] misalnya Ozil’. Dan ketika klub menolaknya, maka pemain pun akan menolaknya. Sama halnya misalnya Ramsey,” tandasnya. Ozil mendapat kontrak baru menggunakan bayaran senilai 350 ribu poundsterling per pekannya dalam tahun kemudian. Namun, beliau justru sedang menjadi bulan-bulanan kritik lantaran nir tampil seperti apa yang diperlukan.

Jose Mourinho Akan Menghadapi Arsenal

Manajer Manchester United, Jose Mourinho dapat hadapi Arsenal di Old Trafford Stadium, Rabu (5/12/2018) atau Kamis dini hari WIB, dalam lanjutan Liga Inggris. Arsenal sementara ini di bawah asuhan Unai Emery. Performa Meriam London lebih baik ketimbang Manchester United asuhan Mourinho. Buktinya, Arsenal berada di peringkat keempat, namun MU masih terseok-seok di posisi tujuh. Namun, Mourinho miliki catatan bagus melawan Arsenal. Tercatat, pria asal Portugal itu udah melawan Meriam London sebanyak 19 kali.

Dalam semua pertandingan melawan Arsenal, Mourinho mencatatkan 10 kemenangan, tujuh imbang dan menelan dua kekalahan. Tim yang diasuh Mourinho sementara melawan Arsenal dikategorikan amat subur. Tercatat, tim Mourinho, terhitung Manchester United, udah menjebol gawang Arsenal sebanyak 29 kali dan kebobolan 12 gol. Jelang pertandingan ini, Mourinho rupanya terhitung miliki catatan luar biasa melawan Unai Emery. Bahkan, sementara berjumpa bersama dengan Emery, Mourinho belum menelan kekalahan.

Menurut Cara Bermain Mix Parlay, Tercatat, manajer Manchester United berusia 55 tahun itu udah lima kali hadapi Emery. Mourinho mencatatkan empat kemenangan dan sekali hasil imbang. Dalam lima pertandingan tersebut, tim yang diasuh Mourinho udah mencetak 15 gol. Sedangkan pasukan Emery cuma mencatatkan enam gol.

Emosi Jose Mourinho Ikutan Labil

Manajer Manchester United, Jose Mourinho, mengunci rapat berita mengenai komposisi pasukannya jelang pertandingan melawan Arsenal dalam lanjutan Liga Inggris, Kamis dini hari WIB nanti (6/12/2018). Dia tutup lisan, bahkan buat televisi MU sekali pun. Seperti dilansir Promo Deposit Judi, ketika menjamu Arsenal di Old Trafford, MU berusaha menghentikan paceklik kemenangan pada perserikatan yg diderita sejak tiga November lalu. Saat ini, MU masih berada pada urutan ke-8 klasemen ad interim atau tertinggal 8 poin dari Arsenal.

Namun, Mourinho harus memutar otak. Sebab, pada pertandingan sebelumnya, MU tanpa hanya mampu bermain imbang dua-dua melawan Southampton. Dalam duel ini, Manchester United mengalami krisis pemain bertahan menyusul absennya Victor Lindelof, Chris Smalling, & Eric Bailly. MUTV berusaha mencari tahu syarat terakhir ketiga pemain itu jelang versus Arsenal. Tetapi ternyata, pertanyaan itu membuat The Special One–julukan Jose Mourinho–kesal. “Saya tidak ingin memperbarui (fakta)-mu,” kata Mourinho. “Saya lebih bahagia Arsenal TV yang menanyakan pertanyaan itu, akan tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka menyembunyikan kabar apa pun menurut dalam, jadi kenapa aku harus menjawab Anda,” istilah mantan instruktur Chelsea dan Real Madrid itu.

Kunjungan Arsenal ke Old Trafford menjadi laga sangkar pertama berdasarkan dua pertandingan yg berlangsung pada Old Trafford dalam empat hari ke depan. Pada pertandingan selanjutnya, MU akan menjamu Fulham pada lanjutan Liga Inggris, Sabtu (8/12/2018). Musim ini, performa MU pada Old Trafford tidak terlalu menjanjikan. Dari enam laga sangkar yang sudah dilalui pada pentas Premier League, Setan Merah hanya memenangi 3 laga saja. Setelah tampil pada kandang, Manchester United akan bertandang ke markas Valencia (13/12) pada Liga Champions sebelum kemudian menyambangi Liverpool dalam lanjutan Liga Inggris (16/12). Cedera pemain dan padatnya jadwal telah membuat Mourinho kelimpungan.

Chelsea Menaklukkan Brighton

Chelsea menaklukkan Brighton & Hove Albion 2-1 terhadap lanjutan Liga Inggris di American Express Community Stadium, Minggu (16/12/2018). Kemenangan ini mempunyai mereka memelihara jarak dengan pimpinan klasemen. Eden Hazard menjadi bintang tim tamu di laga ini. Selain mengakibatkan assist bagi Pedro Rodriguez (’17), Hazard (’33) termasuk mencetak gol bagi Chelsea. Sedangkan Solly March (’66) menciptakan gol hiburan bagi tuan rumah. Tambahan tiga angka berasal dari laga ini memantapkan posisi Chelsea di peringkat empat. Pasukan Maurizio Sarri mengoleksi 37 poin berasal dari 17 pertandingan.

Meraih kemenangan beruntun di Liga Inggris, Chelsea tertinggal tujuh nilai di belakang Manchester City yang menguasai tabel. Sementara Brighton tetap tempati rangkaian 13. Memiliki 21 nilai, mereka sembilan poin di atas zona degradasi. Chelsea segera mengancam terhadap awal pertandingan. Namun tendangan bebas David Luiz menyusul pelanggaran terhadap Hazard enteng diantisipasi kiper Mathew Ryan. The Blues lagi mendapat peluang lewat situasi bola mati. Tapi kali ini usaha Willian membentur tembok.

Dikutip daftar macaubet, Perjuangan Chelsea pada akhirnya menghasilkan hasil. Hazard menarik perhatian empat pemain Brighton sebelum melewatkan umpan masak yang tidak disia-siakan Pedro. Tidak lama berselang, giliran Hazard yang mencatatkan nama di papan skor. Pemain asal Belgia itu tanpa kesusahan menaklukkan Ryan meneruskan umpan terobosan Willian.

Chelsea tetap perlihatkan dominasi di babak kedua. Hazard hampir mencetak gol ke-2 menggunakan kemelut di pertahanan Brighton. Marcos Alonso kemudian menggetarkan tiang gawang tuan rumah lewat tendangan jarak jauh. Alih-alih memperlebar keunggulan, justru Brighton mengecilkan skor lewat March. Mereka lantas menekan The Blues didalam usaha menyamakan kedudukan. Namun Chelsea dapat meredam perlawanan mereka.

3 Pertandingan Boxing Day Terseru di Era Premier League

Klub-klub Premier League akan memasuki fase Boxing Day yg menjadi tradisi khusus di sepak bola Inggris, Rabu (26/12/2018). Tujuh pertandingan akan berlangsung hanya satu hari setelah para pemain merayakan hari Natal. Partai Fulham melawan Wolverhampton Wanderers akan jadi yang pertama digelar pada Boxing Day. Namun yang paling ditunggu barangkali merupakan partai Leicester City kontra Manchester City, dan Liverpool versus Newcastle United. Manchester City & Liverpool waktu ini berada pada garis paling depan dalam perburuan gelar kampiun perserikatan. Liverpool masih memimpin klasemen menggunakan 48 poin, sedangkan Manchester City pada peringkat kedua dengan selisih empat poin.

Laga Manchester United (MU) melawan Huddersfield Town jua layak dinantikan, terutama oleh fans Setan Merah. Suporter pastinya bertanya-tanya dengan kelanjutan debut anggun Ole Gunnar Solskjaer menjadi manajer MU. Seperti diketahui, Solskjaer baru saja dilantik menggantikan Jose Mourinho yg dipecat. Pada laga debutnya akhir pekan kemudian, Solskjaer membawa MU menang telak lima-1 atas Cardiff City.

Partai Boxing Day kerap menyajikan banyak gol. Seperti dilansir Sportskeeda, berikut 3 pertandingan Boxing Day terbaik di era Premier League. Boxing Day di edisi pertama era Premier League berlangsung seru. Enam gol tercipta pada salah satu pertandingan yakni antara Sheffield Wednesday melawan Manchester United. MU yg waktu itu telah dipimpin Sir Alex Ferguson harus bertandang ke Hillsborough meladeni Sheffield. MU menggunakan materi pemain misalnya Eric Cantona dan Brian McClair dipaksa tertinggal 0-3 lebih dulu menurut sang versus.

Tetapi dikutip daftar macaubet, pertandingan berakhir menggunakan skor tiga-tiga. Yang luar biasa, MU menceploskan tiga gol ke gawang Sheffield saat pertandingan akan selesai kurang dari 30 mnt lagi. McClair & Cantona menjadi pahlawan MU dalam pertandingan tersebut. McClair mencetak 2 gol, ad interim Cantona satu gol. Di akhir ekspresi dominan, MU akhirnya keluar menjadi kampiun Premier League. Ini merupakan gelar perserikatan pertama MU waktu dipimpin Sir Alex Ferguson.

Solskjaer Ingin Bawa MU Raih Hattrick

Ole Gunnar Solskjaer mencetak sejarah dengan meraih kemenangan di 2 laga awal menjadi caretaker manajer Manchester United (MU). Pria asal Norwegia itu sanggup memperkuat posisinya pada Old Traffrod. Solksjaer menjadi sosok kelima yg meraih hasil positif pada dua partai pembuka. Di tangannya MU menghajar Cardiff City lima-1 & Huddersfield Town 3-1. The Sun mencatat, capaian tersebut menempatkan Solskjaer sebagai sosok kelima mengikuti jejak TJ Wallworth (1912), Sir Matt Busby (1946), Dave Sexton (1977), & Jose Mourinho (2016).

Solskjaer pun telah lebih baik menurut instruktur legendaris MU Sir Alex Ferguson. Meski mempersembahkan 38 gelar bagi The Red Devils, Ferguson menderita kekalahan & output imbang di dua pertandingan awal. Kini Solskjaer mengincar kemenangan ketiga saat Manchester United menjamu Bournemouth pada Old Trafford, Minggu (30/12/2018). Dikuti Judi Bola Sebanyak 2 menurut empat pendahulu Solskjaer menderita kekalahan pada partai ketiga, yakni Wallworth & Sexton.

Start terbaik dibukukan Busby yang memetik lima kemenangan pada awal karier menjadi nakhoda MU. Sedangkan Mourinho meraih empat output positif. Kesempatan Solskjaer memantapkan posisi sangat terbuka mengingat tingginya agama diri tim plus rekor bagus atas Bournemouth. MU selalu menang pada 3 laga terakhir lawan The Cherries.

Kapten Timnas India Sulit Tidur

Capt Timnas India, Sunil Chhetri tampil apik pada Piala Asia 2019. Namun, Sunil masih menyimpan luka setelah timnya gagal menembus 16 akbar. Setelah kalah 0-1 melawan Bahrain, Chhetri menyampaikan beliau belum tidur sesudah pertandingan. “Saya umumnya banyak tidur. Setelah menang melawan Thailand, aku relatif yakin kami akan lolos, jadi buat menghilangkan ini sangat sulit (kecewa),” katanya misalnya dikutip dari DNA India. Chhetri pula menyampaikan bahwa para pemain yang wajib disalahkan atas kegagalan India.

Secara mental, kami bunuh sendiri. Secara fisik, kami nir lelah. Seseorang misalnya Hali (Halicharan Narzary) sanggup berlari 180 mnt lagi. Kami hanya tidak melakukan. Sebagai pemain senior, aku seharusnya melakukan sesuatu,” ucapnya dalam Judi Bola Bonus Deposit. Kekalahan dari Bahrain memang menyakitkan. Pasalnya, gol Bahrain tercipta dalam mnt ke-91 lewat tendangan penalti Jamal Rashid.

Dalam situasi misalnya itu, mental menjadi penentu karena ada sesuatu yang sulit buat dihindarkan dari lapangan. Tidak terdapat yang menyuruh kami bermain defensif. Meskipun kami bertahan menggunakan sangat baik, pada level ini Anda akan dihukum lantaran melakukan itu (kesalahan yg berimbas penalti). Kami terus mengatakan dalam diri sendiri ‘ayo kita tunggu sementara waktu lagi. Sunil mengungkapkan, waktu melawan Thailand dan UEA, India tampil lebih baik & punya banyak peluang. Tetapi, waktu melawan Bahrain, mereka stress.

Namun, beliau pula menambahkan, bahwa India menghadapi versus berat di Piala Asia 2019. Menurut Sunil, UEA, Thailand, Bahrain bukan tim sembarangan. “Kami menerangkan kepada UEA dan Thailand kemampuan kami. Bagi saya, itu berarti peningkatan,” istilah Sunil. Pemain berusia 34 tahun itu menyatakan tidak akan pensiun dalam saat dekat. “Tidak terdapat alasan buat purna tugas. Suatu hari akan terdapat No. 10 yg akan lebih baik dari aku . Sampai waktu itu, saya pikir aku bisa berkontribusi,” tegasnya.